TEKNIK MENULIS ABSTRAK
Oleh B.P. Sitepu
Abstract
Abstract
is required in publishing an academic or scientific writings. It is very
important to motivate the readers to read the writing. How ever many novice
writers still find difficulties in writing effective abstract. This article
attempts to provide some information on writing abstract. Reviewing a number of
references, the article focuses the discussion on informative abstract. Some
suggestions are provided to assist the writers, particularly those who are not
familiar yet with writing abstract. Key words: abstract, summary, descriptive
abstract, informative abstract
PENDAHULUAN
Karya
tulis ilmiah seperti skripsi, tesis, disertasi, makalah seminar, atau naskah
ilmiah untuk dimuat di jurnal mengharuskan penulisan abstrak. Dalam makalah
atau naskah ilmiah abstrak biasanya ditempatkan sesudah judul naskah dengan
maksud untuk memberikan gambaran secara ringkas tentang isi naskah. Oleh karena
itu, abstrak sering juga disebut ringkasan singkat (short summary). Informasi
di dalam abstrak diharapkan dapat memotivasi pembaca untuk membaca isi naskah
secara utuh. Dengan perkatan lain abstrak diharapakn dapat menggoda dan
meyakinkan pembaca bahwa isi naskah itu menarik dan penting dibaca. Isi abstrak
memberikan informasi yang menjadi bahan pertimbanngan bagi pembaca untuk
melanjutkan atau tidak membaca keseluruhan isi naskah.
Setiap
biasanya mempersyaratkan peulisan abstrak untuk setiap naskah yang diterbitkan.
Penulis naskah pada umumnya telah melengkap naskah mereka dengan abstrak yang
dimaksud walaupun belum semua dalam bahasa Inggris. Dari abtrak-abstrak yang
disusun penulisnya itu, terlihat beberapa masalah sehingga perlu penataan
kembali atau bahkan kadang-kadang harus disusun dan ditulis. Masalah yang
dimaksud adalah, pertama terlalu panjang. Abstrak disusun dalam beberapa
paragaraf sehingga berupa ringkasan isi naskah. Kedua, terlalu rinci dengan
memuat hal-hal yang tidak diperlukan dalam abstrak misalnya, penjelasan tentang
metodologi penelitian, rumus-rumus yang dipakai dalam pengolahan data, serta
hasil, kesimpulan, dan saran yang lengkap. Ketiga, terlalu singkat sehingga
tidak memberikan informasi yang mendorong pembaca untuk membaca naskah itu
lebih lanjut. Misalnya, tidak menyebutkan masalah dan hasil penelitian sama
sekali. Keempat, tidak memuat hal-hal yang pokok dalam isi naskah sungguhpun
telah memberikan uraian yang cukup panjang, sehingga tidak memberikan daya
tarik untuk membacanya lebih lanjut. Kelima, bahasa Ingggris yang dipergunakan
tidak informatif, karena kesalahan-kesalahan dalam pemilihan kata dan tata
bahasa.
Penulis
naskah ilmiah, khususnya yang belum memiliki banyak pengalaman menulis, kerap
kali menghadapi kesulitan menulis abstrak naskahnya. Pada hal abstrak itu
merupakan persyaratan kelengkapan naskah untuk dapat dimuat dalam jurnal ilmiah.
Tidak jarang abstrak ditulis tidak sebagaimana seharusnya sehingga abstrak itu
tidak berfungsi sebagaimana diharapkan. Sering pula ditafsirkan abstrak adalah
sama dengan ringkasan/rangkuman (summary). Pada hal terdapat perbedaan yang
sangat nyata antara abstark dan ringkasan, dilihat dari tujuan, isi, dan
bentuknya. Tulisan ini bermaksud memberikan penjelasan tentang tata cara
penulisan abstrak dan perbedaannya dengan ringkasan.
PEMBAHASAN
Disebutkannya
abstrak sebagai ringkasan singkat (short summary) menunjukkan bahwa abstrak
memiliki kesamaan tetapi juga berbeda dengan ringkasan (summary). Kedua-duanya
memberikan informasi kepada pembaca tentang isi suatu naskah (buku, skripsi,
tesis, disertasi, atau makalah). Dilihat dari panjang atau jumlah katanya,
abstrak lebih singkat yang berarti informasi yang diberikan melalui abstrak
lebih sedikit dibandingkan dengan ringkasan. Perbedaan ini jelas terlihat dari
penyajiannya; abstrak terdiri atas satu paragraf dengan jumlah sekitar 200
kata, sedangkan ringkasan terdiri atas beberapa paragraf yang panjangnya antara
10 – 25% dari naskah aslinya. Ringkasan mendiskripsikan gagasan-gagasan yang
ada dalam naskah dengan susunan dan alur berpikir seperti dalam naskah aslinya.
Dengan membaca ringkasan, pembaca mungkin merasa sudah mendapatkan informasi
yang cukup tentang isi naskah tanpa harus membaca keseluruhan isi naskah,
kecuali untuk gagasan/bagian tertentu yang dianggap perlu didalami lebih
lanjut. Sedangkan abstrak tidak memberikan isi gagasan yang lengkap serta tidak
mengikuti sistematika dalam naskah aslinya tetapi secara singkat memberikan
pokok-pokok gagasan yang dibicarakan dalam naskah aslinya.
Dilihat
dari isinya, abstrak dapat dikategorikan ke dalama dua jenis: (a) abstrak
bersifat deskripti dan (b) abstrak bersifat informatif. Abstrak deskriptif
menggambarkan hanya tujuan dan ruang lingkup isi tulisan tetapi tidak
menyebutkan hasil dan kesimpulan isi tulisan. Sedangan abstrak yang bersifat
informatif memberikan penjelasan tentang latar belakang masalah, masalah,
pendekatan/metode, hasil, dan kesimpulan isi tulisan. Oleh karena
unsur-unsurnya lebih banyak, maka abstrak informative lebih panjang dari
abstrak deskriptif. Tulisan-tulisan dalam jurnal ilmiah biasanya menggunakan
abstrak informatif. Walaupun abstrak informatif terdiri atas satu paragraph
dengan jumlah sekitar 200 kata, informasi dalam abstrak diharapkan mencakup (a)
latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) pendekatan atau metode, (d)
hasil, dan (e) kesimpulan pembahan. Masing-masing unsur-unsur itu disebutkan
secara ringkas tetapi mudah dipahami.
Pertama,
latar belakang masalah menyebutkan situasi/kondisi yang menimbukan masalah dan
perlu untuk dikaji secara ilmiah. Latar belakang ini hendaknya sungguh-sungguh
aktual dan menarik bagi pembaca yang dinyatakan dalam dua atau tiga kalimat.
Keberhasilan dalam menggambarkan latar belakang masalah itu dengan menarik,
mendorong pembaca meneruskan membaca abstrak sampai selesai dan keseluruhan isi
n askah. Sebaliknya, kegagalan menarik perhatian pembaca melalui latar belakang
masalah ini, dapat membuat pembaca tidak melanjutkan membacanya.
Kedua,
rumusan masalah menyatakan hal pokok yang dibahas atau pertanyaan yang akan
dijawab dalam tulisan berikutnya. Masalah hendaknya dirumuskan dengan singkat
tanpa rincian, walaupun dalam isi tulisan masih dikembangkan menjadi beberapa
pertanyaan. Sudah barang tentu rumusan masalah terkait langsung dengan latar
belakang masalah yang diuraikan sebelumnya. Biasanya masalah tersebut
dirumuskan hanya dalam satu kalimat pemdek.
Ketiga,
pendekatan atau metodologi yang dipergunakan dalam mengkaji masalah itu
disebutkan yang utama saja , misalnya menyebutkan populasi tetapi tidak
menyebutkan teknik sampling dan jumlah sampel. Dalam menuliskan tentang
metodologi dihindari rumus-rumus statistik dalam pengolahan dan analisis data,
jadi sangat bersifat deskriptf dan singkat.
Keempat,
hasil berisi inti jawaban atau temuan yang diperoleh dari pembahasan yang
dilakukan. Hasil hendaknya disebutkan secara nyata tetapi tidak rinci dan kalau
perlu dapat mencantumkan data kuantitatif. Hendaknya tetap dijaga agar
informasi singkat tentang hasil itu menimbulkan keinginan pembaca mengetahui
lebih rinci dan lengkap sehingga menggugahnya membaca isi naskah secara
lengkap. Apabila rumusan hasil dituliskan secara lengkap dapat mengurangi
motivasi pembaca membaca isi naskah secara lengkap karena merasa telah
mengetahui hasilnya dengan m,embaca abstrak.
Kelima,
kalau hasil kajian menggambarkan temuan atau sintesis dari pembahasan, maka
kesimpulan menujukan arti dan implikasi hasil kajian. Kesimpulan, termasuk
saran yag diajukan atas dasar hasil /temuan kajian.. Sudah barang tentu
kesimpulan menjawab pertanyaan atau masalah yang dikemukakan sebelumnya.
Mengingat ketentuan dalam menulis abstrak, khususnya berkaitan dengan
panjangnya abstrak, kesimpulan dirumuskan secara padat tetapi menggambarkan inti
kajian. Uraian tentang latar belakang, maslah, pendekatan/metode, hasil, dan
kesimpulan disusun secara ringkas, terintegrasi, koheren, dan informatif dalam
satu paragraf yang utuh dan berdiri sendiri.
Abstrak
tidak memuat informasi yang yang tidak terdapat dalam tulisan yang utuh dan
ditulis setelah tulisan selesai dsusun. Oleh karena itu sebelum menulis abstrak
sebaiknya naskah lengkapnya dibaca beberapa kali sehingga abstrak yang ditulis
dapat memberikan informasi yang utuh.
Uraian
abstrak biasanya diikuti dengan pencantuman kata-kata kunci yang berjumlah
paling sedikit tiga kata/frase. Kata-kata kunci itu mencerminkan konsep-konsep
utama yang dibahas dalam tulisan itu. Tidak harus setiap kata kunci tertera
pada uraian abstrak tetapi harus terlihat pada isi tulisan. Kata-kata kunci
yang dimaksud adalah konsep bukan semua istilah yang dipakai dalam tulisan itu.
Jurnal
tertentu mepersyaratkan menuliskan abstrak setiap tulisan dalam bahasa Inggris.
Untuk memenuhi itu penulis hendaknya menyusun abstrak tersebut dengan
menyusunnya dalam bahasa Inggris, bukan dengan menerjemahkan versi bahasa
Indonesia ke dalam bahasa Inggris kata demi kata. Juga hendaknya dihindari
menerjemahkannya dengan menggunakan Trans Tool, program komputer, karena
hasilnya sengat buruk dilihat dari pilihan kata dan kaidah-kaidah bahasa
Inggris.Berikut ini diberikan contoh abstrak dalam bahasa Indonesia.
Pengaruh
Metode Mengajar dan Ragam Tes Terhadap Hasil Belajar Matematika dengan
Mengontrol Sikap Siswa (Eksperimen pada Siswa Kelas I SMU Negeri DKI Jakarta)
oleh Baso Intang Sappaile
Abstrak:
Mengingat
pentingnya matematika, maka sangat diharapkan siswa sekolah menengah untuk
menguasai pelajaran matematika SMU. Karena di samping matematika sebagai sarana
berpikir ilmiah yang sangat diperlukan oleh siswa, juga untuk mengembngkan
kemampuan berpikir logiknya. Matematika juga diperlukan untuk menunjanng
keberhasilan belajar siswa dalam menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Untuk itu diperlukan metode mengajar berlandaskan permasalahan yang merupakan
pendekatan yang sangat efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat
tinggi, membeantu siswa memproses informasi yang telah dimilikinya, dan siswa
membangun sendiri pengetahuannya tentang dunia sosial dan fisik di sekelilingnya.
Untuk mengukur proses hasil belajar mengajar diperlukan tes pilihan ganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode mengajar mempunyai pengaruh
terhadap hasil belajar matematika siswa yang tyergatung pada ragam tes, setelah
mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika. Kata kunci: Metode
mengajar, Ragam Tes, Hasil belajar matematika siswa dan Sikap siswa terhadap
matematika (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Desember 2006. Edisi Khusus; hlm
1)
Contoh abstrak dalam bahasa Inggris.
Penerapan
Lesson Study sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Tutor Keaksaraan Fungsional
oleh Putu Ashinya Widhiartha & Dwi Sudarmanto
Abstract
Lesson study is an approach in improving the teacher”s
competence through collaboration and continuous analysis of the instruction
based on collegial and and mutual learning principle. This approach includes
teacher’s participation to be active in small discussion groups. This research
conducted to develop lesson study approach to improve the competence of functional
literacy tutors. Viewed from the methodology employed, the research which was
conducted in Sukolilo Sub-District was classified as an action research. To
meet the objectives, the research was undertaken in four cyclesas from November
2007 through February 2008. The results showed there is a significant
improvement of the functional literacy tutor’s competence. Based on the
experience in conducting this action research, some recommendations were given
in the application of lesson study model. Key words: lesson study, lesson study
model, tutor,s competence. ((Jurnal Ilmiah VISI Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan Non Formal (PTK-PNF), Vol. 4, No.1 – 2009))
KESIMPULAN
Abstrak
yang diperlukan melengkapi naskah untuk dimuat dalam jurnal ilmiah, mempunyai
persyaratan seperti panjang (jumlah kata), isi, dan susunannya. Panjang abstrak
berkisar 200 kata yang disusun dalam satu paragraf yang terintegrasi. Berbeda
dengan ringkasan, abstrak memuat secara singkat tentang latar belakang, metode,
hasil, dan kesimpulan kajian yang disusun secara padat dan koheren.Oleh karena
panjang abstrak terbatas maka hasil dan kesimpulan kajian ditulis secara padat
dan singkat tetapi menarik untuk diketahui. Di samping itu uraian abstrak
memuat kata-kata kunci isi yang menjadi bahsan dan naskah. Walaupun telah
tersebut dalam uraian abstrak, untuk mempertegas dan menarik perhatian pembaca,
kata-kata kuci itu disusun secara terpisah pada akhir abtrak. Abstrak berfungsi
untuk memberikan gambaran ringkas tentang isi naskah dan disusun sedemikian
rupa untuk menggugah pembaca untuk membaca isi naskah secara keseluruhan. Agar
abstrak dapat memenuhi fungsinya, penulis hendaknya meperhatikan
ketentuan-ketentuan menyusun dan menulis abstrak termasuk dalam pemilihan kata
yang efisien dan tepat, penyusunan kalimat yang syarat makna, penataan
kalima-kalimat menjadi sebuah paragraf yang koheren. Yang juga sangat pentng
ialah penggunaan bahasa yang baku serta komunikatif. Abstrak ditulis sesudah
naskah selesai ditulis secara lengkap dan perlu diperiksa kembali untuk melihat
apakah abstrak itu telah dapat menggambarkan isi pokok naskah secara singkat
tetapi lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Leki, I. (1998). Academic writing. Cambridge: Cambridge
University Hairston, M. & Ruszkiewics, J. J. (1991). The scott, foresman
handbook for writers. 2nd edition. New York: Harper Collins Publishers. The
American Psychological Association. (1997). Publication manual of the American
Psychological Association. 9th printing. Washington. DC.: American
Psychological Association Turabian, K.L. (1996). A manual for writers of term
papers, theses, and dissertation. Sixth edition rvised by John Grossman an
Alice Bennett. Chicago: The University of Chicago Press. Berbagai Sumber
Sumber : bintangsitepu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar